Selamat datang di CHAP-Global Media Articles
Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

2013 Manado tuan rumah Asia Media Summit


Manado (bolmutpost.com)  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI, menyatakan optimis pelaksanaan Asia Media Summit (AMS) 2013, di Manado Sulawesi Utara, akan berjalan lancar.

Kami dari Kementerian optimis, karena melihat respon dan semangat dari Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang dan Wali Kota Manado Vicky Lumentut,” kata Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemkominfo RI, Freddy Tulung, di Manado, Selasa.




Selasa, 27 November 2012

Hasil dan Jadwal AFF Suzuki Cup 2012


Hasil Sementara

Penyisihan

GROUP
A
Sabtu, 24 November 2012
Rajamangala Stadium, Bangkok
Vietnam1VS1Myanmar
GROUP
A
Sabtu, 24 November 2012
Rajamangala Stadium, Bangkok
Thailand2VS1Filipina
GROUP
B
Minggu, 25 November 2012
Bukit Jalil National Stadium, Kuala Lumpur
Indonesia2VS2Laos
GROUP
B
Minggu, 25 November 2012
Bukit Jalil National Stadium, Kuala Lumpur
Malaysia0VS3Singapura
GROUP
A
Selasa, 27 November 2012
Rajamangala Stadium, Bangkok
Vietnam0VS0Filipina
GROUP
A
Selasa, 27 November 2012
Rajamangala Stadium, Bangkok
Myanmar0VS0Thailand
GROUP
B
Rabu, 28 November 2012
Bukit Jalil National Stadium, Kuala Lumpur
Indonesia0VS0Singapura
GROUP
B
Rabu, 28 November 2012
Bukit Jalil National Stadium, Kuala Lumpur
Laos0VS0Malaysia
GROUP
A
Jumat, 30 November 2012
Muang Thong Stadium, Bangkok
Filipina0VS0Myanmar
GROUP
A
Jumat, 30 November 2012
Rajamangala Stadium, Bangkok
Thailand0VS0Vietnam
GROUP
B
Sabtu, 1 Desember 2012
Shah Alam Stadium, Kuala Lumpur
Singapura0VS0Laos
GROUP
B
Sabtu, 1 Desember 2012
Bukit Jalil National Stadium, KL
Malaysia0VS0Indonesia

Andik: Indonesia Akan Bangkit


Diimbangi Laos, negara yang dulu selalu menjadi sasaran empuk tim nasional Indonesia untuk mendulang gol, memang mengecewakan. Hal itulah yang dirasakan sejumlah penggawa skuad "Merah Putih" seusai laga yang berakhir imbang 2-2 tersebut. Maka dari itu, mereka bertekad bangkit di laga kedua lawan Singapura, Rabu (28/11/2012), juga laga pamungkas melawan Malaysia, Sabtu (1/12/2012).


Salah satu gelandang timnas Andik Vermansyah mengakui hasil imbang tersebut memang di luar harapannya. Namun, pemain Persebaya Surabaya itu tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap perjuangan rekan-rekannya dalam pertandingan tersebut.



Kini, nasib Indonesia akan bergantung pada hasil dua laga sisa Grup B Piala AFF 2012 melawan Singapura dan tuan rumah Malaysia. Jika ingin lolos ke babak semifinal, mau tidak mau Andik dan kawan-kawan harus meraih poin penuh di kedua pertandingan tersebut.



Berikut adalah petikan wawancara wartawan Kompas.comAry Wibowo, dengan Andik di sela-sela penyelenggaraan Piala AFF mengenai peluang Indonesia dalam turnamen tersebut.

Pendapatmu soal pertandingan melawan Laos?



"Ya, pertandingan pertama biasanya memang akan berjalan sangat sulit dan mungkin hal ini juga dialami oleh semua tim. Jujur, pertandingan kemarin adalah laga yang sangat menguras tenaga, apalagi kami mendapatkan kartu merah yang sangat berpengaruh karena kita kekurangan pemain dan stres karena penalti."

"Sebenarnya kami bisa menang dan hasil imbang itu seharusnya tidak terjadi. Tetapi, teman-teman sudah bekerja keras demi bangsa dan negara. Syukur, kita akhirnya bisa bermain imbang, meskipun ini sangat disayangkan karena kemarin harusnya dijadikan kesempatan untuk mencuri poin (penuh)."

Penampilanmu sendiri?



"Kemarin aku memang tidak ada kesempatan untuk membuat gol karena ingin berusaha untuk membuka ruang bagi teman-teman lagi. Aku memberikan empat kali assist. Memang lebih bagus kalau aku kasih assist karena kalau tidak masuk aku akan dicap jelek sendiri."

"Aku sering dikritik karena dianggap bermain individualis. Tetapi, hal itu aku lakukan untuk membongkar pertahanan lawan. Kalau aku 'diambil' dua atau tiga orang, maka ada kesempatan bagi pemain lain sebab lawan lengah. Karena itu, aku ingin menghilangkan sejumlah kritik itu dengan assist-assist tersebut."



Bagaimana perasaanmu dipercaya sebagai starter?

"Aku tidak pernah mempersoalkan masalah posisi. Aku menyerahkan semuanya kepada pelatih. Mau jadi pemain inti atau tidak, aku selalu siap karena aku ingin mendukung teman-teman. Kalau ada kekurangan, insyaAllah aku bisa mengisi hal tersebut."



Bagaimana dengan Singapura?

"Aku melihat mereka adalah tim yang kompak. Pertahanan dan serangan baliknya juga sangat berbahaya sekali. Aku menyaksikan pertandingan mereka saat mengalahkan Malaysia 3-0."

Harapan untuk pertandingan besok?


"Kami akan berusaha bangkit dan memenangkan pertandingan itu karena kami harus mendapatkan tiga poin. Secara pribadi mau main bagus atau tidak, yang penting menang. Mau main jelek, yang penting menang."

"Harapan kami para pemain semenjak awal berangkat ke Malaysia sampai sekarang adalah ingin lolos dari grup ini karena warga Indonesia sangat menunggu hasil maksimal dari perjuangan kami di turnamen ini."

| Source: 
http://lipsus.kompas.com/aff2012/read/2012/11/27/1152146/Andik.Indonesia.Akan.Bangkit?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

Senin, 26 November 2012

Malaysia Bertekad Lumat Indonesia


Pelatih timnas Malaysia, K Rajagobal.




Source: KUALA LUMPUR, KOMPAS.com | 


— Kekalahan menyakitkan dengan skor 0-3 saat melawan Singapura di Grup B Piala AFF 2012, Minggu (28/11/2012), membuat Malaysia harus mati-matian di dua pertandingan berikutnya. Mereka pun bertekad melumat Laos dan Indonesia.

Malaysia akan melawan Laos pada Rabu (28/11/2012), dan melawan Indonesia pada Sabtu (1/12/2012).

"Saya tak pernah menyangka akan kalah sebesar itu. Saya kira kami memulai permainan dengan baik, tapi kemudian kecolongan dua gol mudah," sesal Pelatih Malaysia, K Rajagobal, seperti dilansir situs resmi Piala AFF.

"Kami bermain dengan semangat di babak kedua dan menekan mereka (Singapura). Tapi, kami gagal mencetak gol meski sudah mengerahkan energi dan membuat determinasi. Malahan kami kembali membuat kesalahan dan kebobolan untuk kali ketiga kalinya," lanjut Rajagobal.

Ia mengakui, tugas Malaysia menjadi lebih berat dengan kekalahan tersebut. Namun, itu harus dihadapi dan timnya harus tampil habis-habisan untuk meraih kemenangan atas Laos dan Indonesia.

"Kami harus melakukannya dengan cara lebih berat lagi. Kami tak punya pilihan kecuali memenangi dua pertandingan berikutnya. Hasil itu (dikalahkan Singapura) sangat mengecewakan dan membuat frustrasi. Tapi, saya masih yakin (bisa lolos) meski harus berjuang keras," tutup Rajagobal.

Senin, 19 November 2012

Jason Mraz Ajak Sungha Jung Jadi Gitarisnya



Jakarta - Gitaris berbakat asal Korea Selatan Sungha Jung dipuji oleh pelantun 'I Want Give Up on Us' Jason Mraz. Remaja berusia 15 tahun itu bahkan diajak Jason untuk bergabung di bandnya.

"Sungha Jung membuat musik paling indah di YouTube," puji Jason dilansir Soompi, Senin (18/6/2012).

"Ketika aku menonton Sungha memainkan laguku, aku berpikir 'wow, orang ini harus bergabung di bandku'. Ia sangat bagus sekali. Jika ada kesempatan, aku ingin bertemu langsung dengannya," sambung Jason.

Sungha Jung adalah gitaris muda yang dikenal lewat situs berbagi video YouTube. Saat ini saluran YouTube-nya yang diberi naman jwcfree memiliki lebih dari 780 ribu subscribers dan sudah dilihat lebih dari 488 juta kali.

Remaja yang sudah bermain gitar sejak usia 5 tahun itu terbiasa meng-cover lagu dengan aransemen yang dibuatnya sendiri. Sungha pernah meng-cover lagu Jason 'I'm Yours' 30 September 2010 lalu.

Saat ini Sungha sedang mempersiapkan turnya ke berbagai negara Asia. Tanggal 23 dan 24 Juni ia akan tampil di Malaysia, 13 Juli di Taiwan, 14 dan 15 Juli di Hongkong, dan 17 sampai 22 Juli di China.

| Source :  http://hot.detik.com/music/read/2012/06/18/151855/1944099/1180/jason-mraz-ajak-sungha-jung-jadi-gitarisnya

Kamis, 15 November 2012

Anggota BK DPR Kecewa Dahlan Iskan

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Badan Kehormatan (BK) Ansory Siregar kecewa dengan tindakan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Kekecewaan itu terkait revisi yang dilakukan Dahlan soal dugaan oknum anggota DPR pemeras BUMN.
"Pertama dia laporan itu kan dua orang dengan tiga peristiwa, kemudian pada Rabu itu cuma menambahkan satu peristiwa, di situ aja dia berbohong, namanya juga bukan seperti yang beredar," kata Ansory, Kamis (15/11/2012).

Politisi PKS itu mengatakan bila Dahlan menyebut ada oknum pemalak atau pemeras seharusnya ia melaporkan puluhan nama. "Kalau satu dua untuk apa dia koar-koar, kemudian setelah dimasukkan 5 kemudian kemarin dia ada yang diralat dua orang tapi ini kan diralat, alasannya enggak bilang, masih dalam proses," katanya.

Minggu, 11 November 2012

Strong quake strikes Myanmar; at least 5 killed

ANGON, Myanmar (AP) — A strong earthquake struck northern Myanmar on Sunday, with local media reporting that five people were killed. Scattered damage and injuries also were reported in areas close to the quake's epicenter.
According to news reports, the most significant damage appeared to be the collapsing of bridge under construction across the Irrawaddy River in the town of Shwebo, the location of the quake's epicenter. The website of Weekly Eleven magazine said five people were killed when the bridge, which was 80 percent built, collapsed.
"This is the worst earthquake I felt in my entire life," said Soe Soe, a 52-year-old Shwebo resident.
According to Soe Soe, the huge concrete gate of a monastery collapsed and several sculptures from another pagoda were damaged in the town.
Other damage was reported in Mogok, a major gem-mining area just east of the quake's epicenter. Temples were damaged there, as were some abandoned ruby mines hit by landslides, Sein Win, a resident, said by phone.
A resident in the capital, Naypyitaw, said several window panes of the parliament building had broken.
An official from the Meteorological Department in Naypyitaw said the magnitude-6.8 quake struck at 7:42 a.m. local time. He spoke on condition of anonymity because he was not authorized to release information to the media.
The U.S. Geological Survey reported the quake's magnitude as 6.6 with a depth of just 10 kilometers (6 miles).
There were no reports of casualties or major damage in Myanmar's second-largest city, Mandalay, which is about 117 kilometers (72 miles) south of the epicenter and the region's only major population center.
Mandalay residents contacted by phone said the quake was strong enough to send people dashing out of their homes for safety, as water splashed out of jars and tanks. They said they saw no major structural damage in their immediate neighborhoods, but added that it did cause cracks in some walls.
The epicenter of the quake is in a region frequently hit by small temblors that usually cause little damage.
The quake was felt in Bangkok, the capital of neighboring Thailand. It comes just a week ahead of a scheduled visit to Myanmar by President Barack Obama. He will be the first U.S. president to visit the one-time pariah nation, which is emerging from decades of military rule.

Minggu, 30 September 2012

Di Ketinggian Himalaya, Kakak-Beradik Berbagi Istri

Saat Tashi Sangmo berusia 17 tahun, ia menikahi tetangganya yang berusia 14 tahun di sebuah desa terpencil di Nepal. Dan sebagai bagian dari perjanjian, ia juga setuju untuk menikahi adik suaminya itu.

Pada zaman dahulu, anak laki-laki dari setiap keluarga di kawasan Dolpa Atas akan bersamaan menikahi satu perempuan, namun praktik poliandri ini kini sudah mulai menghilang seiring dengan modernisasi zaman.

"Semuanya akan lebih mudah seperti ini karena kami bersama-sama dalam satu keluarga. Tidak terbagi antara istri-istri yang berbeda, dan saya yang memegang kendali," kata Sangmo, yang menggunakan dialek Tibet dan berbicara melalui seorang penerjemah. "Dua bersaudara mencari penghasilan dan sayalah yang menentukan bagaimana uang itu akan digunakan."

Saat Sangmo menikahi Mingmar Lama 14 tahun lalu, adik laki-laki Mingmar, Pasang yang waktu itu berusia 11 tahun, akan terlibat juga dalam pernikahan ini. Praktik poliandri di beberapa desa terisolasi di Nepal sudah berlangsung ratusan tahun. Kini mereka bertiga memiliki tiga anak laki-laki usia delapan, enam, dan empat.

"Saya ingin berbagi ikatan ini dengan adik laki-laki saya karena hidup akan menjadi lebih mudah buat kami berdua," kata Pasang, 25, berbicara di rumah keluarga mereka di desa Simen, 4000 mdpl dan sekitar lima hari berjalan kaki dari kota terdekat.

Orang-orang Dolpa atas adalah bagian dari karavan yang melalui rute antara Nepal dan Tibet. Mereka masih berdagang di rute tersebut, termasuk menuntun yak yang membawa garam dari Tibet dan beras dari dataran selatan Terai.

Di ketinggian desa seperti itu, tanah subur sangat sedikit jumlahnya dan peternakan pun berukuran kecil.

Namun poliandri mencegah keluarga-keluarga membagi aset, dan persediaan makanan pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk lokal.

Pernikahan biasanya dilakukan melalui perjodohan, keluarga pun memilih istri buat anak laki-laki tertua mereka dan memberi kesempatan adik laki-laki untuk menikahi kakak iparnya kemudian.

Dalam beberapa kasus, para istri juga ikut membantu membesarkan calon suami mereka yang masih muda, dan memasuki hubungan seksual dengan mereka setelah cukup dewasa.

Tak seperti pria-pria lain dalam pernikahan Hindu Nepal yang konservatif, para suami di pernikahan poliandri biasanya membantu tugas-tugas domestik seperti membantu memasak dan merawat anak, sementara para istri mengurusi keuangan.

Poliandri juga menjadi sebuah bentuk pengendalian kelahiran karena ada batas maksimal kehamilan perempuan, terlepas dari berapa jumlah suami yang mereka miliki.

Rumah tangga poliandri juga biasanya tak mengenali suami mana yang menjadi orangtua biologis, anak-anak sama-sama memanggil ayah dan paman mereka sebagai "bapak".

Poliandri menghancurkan banyak tabu seksual barat dan sering membuat heran orang luar, namun penduduk lokal melihat peristiwa ini sebagai sesuatu yang biasa dan menguntungkan.

Shitar Dorje, 30, menikahi suaminya yang berusia 37 tahun Karma, sepuluh tahun lalu.

Adik laki-laki Karma, Pema, masuk dalam pernihan itu beberapa tahun kemudian setelah menyelesaikan sekolah filosofi Buddha.

"Jika kami berada di satu rumah dalam waktu yang sama, maka kakak laki-laki saya yang tidur dengan istri saya," kata Pema, 30.

"Dalam hal ini, tidak ada rasa cemburu. Saya tidak merasa cemburu bahwa saat kakak saya ada di rumah, maka istri kami akan bersama dia. Jika saya cemburu, maka saya akan pergi dan menikahi orang lain," kata Pema.

Hidup di Dolpa Atas sederhana, namun berat.

Sanitasi jarang, dan pelayanan kesehatan modern hampir tidak ada. Setiap hari kaum perempuan harus bekerja memecahkan batu di bukit yang tandus atau memanen tanaman di bawah matahari terik.

Poliandri memungkinkan terjadinya pembagian pekerjaan antara dua saudara laki-laki, satu untuk mengurus hewan ternak, satu untuk membantu istri di ladang, dan satu untuk bergabung dalam karavan dagang.

Banyak yang melihat praktik ini sebagai keberlangsungan hidup, ada faktor keamanan buat para perempuan sehingga ada yang akan menjaga mereka setelah satu suami meninggal.

Menurut badan amal asal Belanda SNV yang memiliki jaringan di daerah tersebut, usia harapan hidup di sana hanya 48 untuk pria dan 46 untuk wanita.

Thajom Gurung, 60, dari desa terpencil Saldang, kehilangan suaminya Choldung akibat kanker 30 tahun lalu. Namun ia menikahi dua kakak laki-laki Thajom dan kini tinggal dengan satu-satunya suami yang masih hidup, Choyocap, 67.

"Saat kami semua tinggal bersama, kami bergantian tidur dengan istri saya -- tidak ada yang khawatir soal itu," kata Choyocap.

Sampai baru-baru ini, isolasi di Dolpa Atas mempertahankan gaya hidup yang sudah menghilang di beberapa tempat lain namun turisme kini menyoroti kawasan yang sudah sempat terlupakan ini.

Di atap-atap rumah batu, di tempat yang dulunya berkibar bendera doa, kini bermunculan parabola satelit. Mereka pun melihat kilasan dari dunia modern dengan imaji romansa yang sangat kontras dengan kehidupan mereka.

Menurut SNV, meski 80 persen rumah tangga melakukan praktik poliandri satu generasi lalu, jumlahnya kini turun hanya 1 banding 5 atau 20 persen, dan akan hilang dalam dua generasi.

Untuk sementara, praktik ini kini terjaga oleh generasi yang pernikahannya adalah tentang pragmatisme dan bertahan hidup di salah satu lingkungan terkeras di dunia.

"Poliandri adalah tentang menjaga keluarga tetap bersatu saat kehidupan menjadi keras," kata Choyocap Gurung. "Dengan banyak saudara laki-laki, rumah tangga menjadi lebih kuat dan anak-anak akan punya kesempatan yang lebih baik di masa depan."